Lombok Timur - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya memiliki hajat mulia bagi masyarakat Indonesia. Di Nusa Tenggara Barat (NTB) program andalan Presiden Prabowo ini telah berjalan hampir setahun.
Namun, di balik itu, sejumlah sorotan terkait program ini mulai muncul dan mendapat pandangan negatif. Mulai dari banyaknya pejabat hingga DPRD yang ikut berbisnis. Sampai dengan temuan kasus menu MBG yang tak layak untuk kesehatan.
Di Lombok Timur sendiri, sejumlah pemangku kebijakan turut serta dalam mengelola MBG. Mulai dari Eksekutif, Legislatif, bahkan hingga aparat penegak hukum (APH).
Pada sisi lain, sejak berjalannya program MBG ini, khususnya di Lombok Timur, sejumlah kasus ditemukan. Paling ramai soal kasus anak sekolah yang keracunan. Mengerikannya lagi, penerima manfaat MBG ini bahkan menemukan ada belatung pada menu MBG.
Seperti halnya yang ditemukan di SDN 2 Sandubaya, Selong, tahun lalu. Menu MBG dengan hidangan burger itu nyatanya bercampur dengan banyak belatung.
Kepala SDN 2 Sandubaya, Fathurrahman, saat itu mengatakan, menu MBG yang dibagikan berisikan burger, buah, roti, dan kurma. Makanan tersebut diberikan di sekolah dan dibawa pulang oleh para siswa.
“Ada laporan dari wali murid ke wali kelas dua, dikirimkan video ke grub sekolah. Di sana memang kita lihat di makanannya ada ulat,” terangnya. Atas laporan itu, pihaknya sudah mengkonfirmasi ke pihak dapur penyedia makanan.
“Tadi pagi (13/3) pihak dapur datanpg setelah kita laporkan itu. Tapi sebelumnya kita tidak pernah kirimkan video itu, soalnya kita rahasiakan dulu sebelum mendapatkan konfirmasi, tapi entah video itu didapat dari mana,” jelasnya.
Ia meminta kepada pihak pengelola dapur agar lebih memperhatikan kebersihan dan menjadi bahan evaluasi untuk penyediaan menu pada hari-hari berikutnya.
Namun, kasus temuan menu MBG berbelatung itu juga ramai menjadi temuan di sejumlah wilayah. Catatan media ini, temuan kasus serupa juga terjadi Pulau Jawa dan lainnya di Indonesia.
